• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    September 2017
    S S R K J S M
    « Okt    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,910,009 klik
  • Since 2009

    free counters

Ajaran Gereja Katolik bagi Politisi Katolik

getjePara aktivis katolik awam sering terdengar geram akan ‘kelambanan’ hirarki tentang gerakan politik yang merupakan keniscayaan dalam negara demokratis. Tetapi mereka sering lupa bahwa sesungguhnya Gereja Katolik telah memiliki dasar-dasar politik praktis yang mereka perlukan untuk berperan serta aktif dalam kancah politik yang memperjuangkan kesejahteraan umum (Salus populi est suprema lex).

Dalam konteks keindonesiaan, politisi katolik diharapkan memahami bahwa menjadi 100% orang katolik dan orang Indonesia tak mengharuskan orang-orang Indonesia yang beragama katolik untuk memiliki partai inklusif. Menjadi garam dan pelita di tempat masing-masing berada jauh lebih bermakna ketimbang bergulat dengan kepentingan yang sesaat terdengar hebat namun tak bergema sepanjang masa. Baca lebih lanjut

Iklan

Problematika Pilihan Teknologi Pendidikan

Sebagaimana teknologi sendiri, teknologi pendidikan telah berkembang secara menakjubkan dalam dua dasa warsa sejak adanya. Berlawanan dengan kepercayaan umum, teknologi tak selalu bermakna seperti yang dikehendaki para pendidik. Hasil teknologi bahkan membawa hal-hal baru tentang dirinya sendiri. Selain berdampak positif, teknologi seolah-olah juga mampu bermetamorfosa sedemikian rupa sehingga menjadi permasalahan moral tersendiri. Dengan lebih lapang membuka aneka kemungkinan, kita sering harus merefleksikan apakah aneka teknologi pendidikan (atau teknologi di dalam pendidikan) yang kita pilih telah dapat memberikan manfaat seperti yang kita kehendaki atau sadari. Baca lebih lanjut

Terjadinya Negara

Pendekatan faktual (primer), berdasarkan kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi (sudah menjadi  pengalaman sejarah).

  1. Occupatie: pendudukan suatu wilayah yang semula tidak bertuan oleh sekelompok manusia/ suatu bangsa yang kemudian mendirikan negara di wilayah tersebut. Contoh: Liberia yang diduduki budak-budak Negro yang dimerdekakan pada tahun 1847.
  2. Separatie: Suatu wilayah yang semula merupakan bagian dari negara tertentu, kemudian memisahkan diri dari negara induknya dan menyatakan kemerdekaan. Contoh: Belgia pada tahun 1839 melepaskan diri dari Belanda.
  3. Fusi: beberapa negara melebur menjadi satu negara baru. Contoh: pembentukan Kerajaan Jerman pada tahun 1871. Baca lebih lanjut

Pengertian Negara

Beberapa abad sebelum Masehi, para filsuf Yunani: Socrates, Plato, dan Aristoteles sudah mengajarkan beberapa teori tentang “negara”. Telaah mereka tentang ilmu negara dan hukum masih berpengaruh hingga saat ini kendati sesungguhnya pengertian mereka tentang negara pada waktu itu hanya meliputi lingkungan kecil, yakni lingkungan kota atau negara kota yang disebut “polis”. Maka dapat dimaklumi jika Plato menamai bukunya Politeia (soal-soal negara kota) dan bukunya yang lain Politicos (ahli polis, ahli negara kota). Aristoteles menamai bukunya Politica (ilmu tentang negara kota). Dari kata itulah asal kata “politik” yang berarti hal-ihwal dan seluk beluk negara atau kebijakan dalam menghadapi seluk-beluk negara. Pada waktu itu di Yunani digunakan kata polis untuk negara sedangkan di Romawi digunakan kata civitas dengan arti yang lebih kurang sama. Baca lebih lanjut